Selasa, 07 Juni 2011

Pengaruh Media Biakan Terhadap Pertumbuhan Jamur Kuping


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perkembangan budidaya jamur kuping di Indonesia semakin pesat, sehingga saat ini budidaya jamur kuping sangat merebak di berbagai daerah. Hal ini dikarenakan jamur kuping merupakan kosmopolitan atau dapat hidup dimana saja, mulai dari kawasan hutan, pantai sampai dengan pengunungan tinggi dengan persyaratan tempatnya cukup lembab.
Siklus hidup jamur kuping seperti halnya jamur tiram maupun shiitake yang meliputi tubuh buah sudah tua menghasilkan spora berbentuk kecil, ringan dan berjumlah banyak. Selanjutnya spora tersebut jatuh pada tempat yang sesuai dengan persyaratan hidupnya seperti kayu mati atau bahan berselulosa dan dalam kondisi lembab, maka spora tersebut akan berkecambah membentuk midelia. Jamur kuping telah dijadikan sebagai bahan berbagai masakan seperti sayur, kimlo, dan lain-lain.
Secara alami jamur ini hidup soliter pada batang kayu, ranting mati dan tunggul kayu, jamur ini hidup melekat pada substrat kayu keras dan konifer yang muncul pada musin hujan. Dalam keadaan segar tubuh buahnya kenyal atau seperti gelatin dan menjadi keras seperti tulang jika kering. Bentuknya seperti mangkok ataupun kuping yang berdiameter 2-15 cm. tangkai tidak ada atau mengalami rudimenter Gunawan A. W. (2000).
Agrobisnis jamur memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan ke skala agroindustri. Hal ini dikarenakan agroindustri ini tidak menggunakan lahan yang terlalu luas, lahan baku untuk penenaman jamur dalam bentuk limbah seperti serbuk gergaji, serpihan kayu, atau media lainnya. Untuk membudidayakan tumbuhan ini tidak terlalu sulit, waktu tanam mulai dari pembibitan hingga masa panen sangat singkat, jenis jamur ini memiliki nilai jual dengan harga tinggi, oleh karena tumbuhan ini mengandung nilai gizi yang tinggi untuk kesehatan dan pengobatan. Selain itu, aman dikonsumsi, bersifat nonkolestrol, dan berkhasiat sebagai obat dan penawar yang dihasilkan dari lendir jamur kuping.
Jamur kuping selain dikonsumsi untuk makanan juga berkhasiat sebagai obat. Jamur ini juga mengandung 18 (delapan belas) macam asam amino, 9 (sembilan)  merupakan asam amino esensial. Jamur kuping mengandung bahan anti virus dan tumor dan dipergunakan untuk mengobati hipertensi, asma dan hepatitis. Selain itu juga dapat menurunkan kolestrol darah dan merupakan tonik ginjal.
Di Indonesia jamur ini baru mulai dibudidayakan setelah tahun 1980. Budidaya jamur ini pada umumnya menggunakan baglog, serbuk gergaji, dan log tanam batang kayu yuang disimpan diruangan bersuhu 25-300 oC dengan kelembaban relative (RH) 90%.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Media Biakan Terhadap Pertumbuhan Jamur Kuping (Auricularia sp)”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah pengaruh media biakan terhadap pertumbuhan jamur kuping (Auricularia sp)

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh media biakan terhadap pertumbuhan jamur kuping (Auricularia sp)

1.4. Manfaat Penelitian

 Manfaat dari penelitin ini adalah :
1.      Diharapkan  dapat dijadikan sebagai referensi khususnya pada Mahasiswa Program Studi Biologi
2.      Dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi para mahasiswa serta semua pihak tentang manfaat dan khasiat dari jamur kuping
3.      Semoga  hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya petani, agar dapat membudidayakan jamur kuping dengan media yang terdapat disekitar mereka
4.      Memberikan informasi kepada Istansi terkait, sehingga pembudidayaan jamur kuping dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari salah presepsi dalam penelitian ini yang jadi media tumbuh jamur kuping adalah erami padi, ampas sagu (ela sagu) yaitu yang telah ditebang 2 minggu, tanah gembur, kayu lapuk, (Kinar) yang telah mengalami pembusukan atau proses pengomposan. Yang akan diamati dalam ruang lingkup penelitian ini adalah untuk kepadatan atau jumlah individu yang tumbuh dalam media yang disediakan.








1.6. Penjelasan Istilah

Untuk tidak menimbulkan kesalahn dalam penafsiran judul penelitian, maka penulis menjelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1.      Pengaruh               :    Daya tumbuh yang ada pada suatu benda
2.      Media Biakan        :    Substrat yang didapat dalam media penelitian
3.      Pertumbuhan         :    Proses yang menjadi tumbuh
4.      Jamur Kuping        :    Tumbuhan yang hidupnya berasal dari sisa-sisa tumbuhan misalnya jerami padi, ampas kayu, kayu lapuk yang sudah lapuk. Sutioso  (2002)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jenis-Kemis Jamur Kuping

Jenis jamur kuping berbentuk tubuh  buahnya melebar seperti daun telinga manusia (kuping), tetapi dikenal juga ada empat jenis yaitu:
1.      Auricularia aucurila – judae  (tubuh buah lebar dan tebal)
2.      Auricularia polytricha (tubuh bua kecil dan tebal)
3.      Auricularia comea (seperti Auricularia auricular)
4.      Auricularia fuscosuccenea (seperti auricularia polytricha )

2.2.  Nemenmklatur jamur kuping

              Kingdom                       : Myceteae (Fungi)
              Divisio                               : Amastigomycota                            
                       Sub divisio                           : Basidiomycotae
                           Kelas                                      : Basidiomycetes
                                Ordo                                        : Auriculariales
                                    Familia                                       : Auriculariae
                                         Genus                                            : Auricularia
                                             Species                                          : Auricularia sp


2.3. Cara Makan dan Habitat

Semua jamur bersifat heterotrof  atau yang keperluan hidupnya tergantung pada bahan organime yang dihasilkan oleh makhluk hidup yang lainnya. Namun berbeda dengan organisme lain. Jamur mengambil makanan dari lingkungan melalui hifa dan miselium, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena itu jamur merupakan konsumen. Maka jamur bergantung  pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin dan sebagainya, semua zat diperoleh dari lingkungannya. Sebagaimana makhluk lainnya, jamur tidak memangsa atau mencerna makanan, melainkan jamur menyerap zat heterotrof.  Jamur dapat berparasit secara fakultatif dan saprofit.

2.4. Reproduksi Jamur

Jamur kuping (Auricularia sp) dapat berkembang biak secara :
1.      Asekseual (Vegatatif)
Secara aseksual menghasilkan spora. Jamur berbeda-beda ukurannya dan biasanya satu sel, tetapi adapula yang multiseluler, adapun kondisi habitat jamur memperbanyak diri dengan memproduksi dalam jumlah yang besar. Spora aseksual dapat terbawa oleh air atau angin bila mendapatkan tempat yang cocok maka spora akan berkembang dan tumbuh menjadi dewasa.

2.      Seksual (Generatif)
Secara seksual melaui gametogium atau sel struktur organ yang membentuk gamet didalamnya dan konjugasi.gametogium mengakibatkan terjadinya singgami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singgami terjadi dalam dua tahap yaitu :
Tahap pertama  atau plasmogami (peleburan sitoplasma)
Tahap kedua atau kariomogami (peleburan inti), setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu, setelah beberapa waktu akhirnya inti sel melebur membantuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan miosis.

2.5. Syarat Tumbuh Jamur
Jamur mulanya berkembang dengan timbulnya atau tumbuhnya miselium berupa serabut atau titik putih halus yang serupa kapas seperti pada tempe. Jamur akan tumbuh baik dengan faktor-faktor pendukung yaitu :
a.       Media harus cukup sinar matahari, sekalipun jamur dapat tumbuh ditempat yang gelap
b.      Media harus memiliki temperatur 25-30 oC dan perubahan temperatur tidak lebih dari 30 oC
c.       Kelembapan udara yang baik adalah antara 50-65 %
d.      pH antara 4. 5-6, 8 optimal 6, 8
e.       Peredaran udara yang baik.
f.       Membutuhkan CO2

Kelembaban adalah syarat utama yang harus dipenuhi dalam budidaya jamur. Kadar air substrat untuk pertumbuhan vegetatif tergantung pada jenis substrat yang dipakai. Untuk substrat dengan komposisi diatas, kadar air haruslah diperhatikan dengan sebaik mungkin.
Meskipun demikian faktor lain seperti suhu, CO2, cahaya, dan gaya grafitasi bumi juga merupakan faktor-faktor penting. Pertumbuhan vegetatif yang optimum adalah pada suhu 20-22 oC. sedangkan pada saat pertumbuhan tubuh buah memerlukan suhu optimum yang berfariasi, dan memerlukan CO2 lebih tinggi dibandingkan pada tahap pertumbuhan vegetatif misilium.
Kadar air media untuk penanaman jamur adalah 62%. Sedangkan cara sederhana yang bisa digunakan untuk menentukan kadar iar media 50-65% adalah dengan mengepal adonan yang telah dibuat. Apabila adonan tersebut menggumpal tetapi mudah hancur kembali, maka kadar air media sudah tepat.

2.6.  Manfaat dan Kandungan Jamur

Dari segi gastronomik ataupun organoleptik (rasa, aroma, dan penampilan), jamur kuping kurang menarik bila dihidangkan sebagan makanan. Namun jamur kuping sudah dikenal dekat sebagai bahan makanan yang memiliki khasiat sebagai obat dan penawar racun, lendir yang dihasilkan selama dimasak dapat menjadi pengental, dan menonaktifkan atau menetralkan kolestrol.
Jamur kuping dapat dibedakan berdasarkan bentuk, ketebalan, dan warnanya. Jamur yang mempunyai bentuk tubuh buah kecil (sering disebut jamur tikus), digemari oleh konsumen karena warnanya lebih muda, dan rasanya sesuai dengan selera. Jamur yang tubuh buahnya melebar disebut jamur kuping gajah, rasanya sedikit kenyal atau alot sehingga kurang disenangi karena harus diiris kecil-kecil bila dimasak. Jamur kuping selain untuk ramuan makanan juga untuk pengobatan.
Kandungan nutrisi jamur kuping terdiri dari kadar air 89,1%, protein 4,2%, lemak 8,2%, karbohidrat total 82,8%, serat 19,8%, dan nilai energi 35,1%. Jamur kuping mempunyai manfaat :
a.       Penangkal/penonaktif racun baik dalam bentuk racun nabati, racun residu plestida, bahkan sampai pada racun berbentuk logam berat. Dan hampir semua ramuan masakan cina jamur kupjng selalu ditambahkan untuk tujuan menonaktofkan racun yang terbawa dalam makanan.
b.      Kendungan senyawa dalam lendir jamur, efektif untuk menghambat pertumbuhan carcinoma dan sarcoma (kanker) sampai 80-90%.
c.       Lendir jamur kuping dapat menghambat dan mencegah pengumpulan darah.




BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tipe penelitian eksperimen guna melihat pengaruh pertumbuhan jamur kuping.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
a.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sepa Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah.
b.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 Minggu
3.3. Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel penelitian ini adalah jamur kuping yang diambil bibitnya dari Malang




3.4. Variabel Penelitian
Yang menjadi variabel penelitian adalah :
1.      Variabel bebas, media tumbuh yaitu jerami padi ampas sagu (ela sagu) yang telah ditebang 2 minggu, tanah gembur, dan kayu lapuk (Kinar).
2.      Variabel terikat, yaitu pertumbuhan jamur kuping (Auricularia sp) dengan indikator pengukuran sebagai berikut :
-  Jumlah jamur yang tumbuh pada masing-masing media
3.5. Alat dan Bahan
1.      Alat
1.      Termometer                                 6. Alat dokumentasi
2.      Lembaran Plastik                         7. Polibeg
3.      Pisau                                            8. pH meter
4.      Ember                                          9. Alat Semprot
5.      Alat Tulis                                     10. Jangka Sorong
                                   
2.      Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : jerami padi tanah gembur, kayu lapuk, ampas sagu, air steril, dan benih jamur kuping.


3.6. Jenis dan Sumber Data
Jenis  dan sumber data dalam penilitian ini terbagi  atsa dua yaitu
1                    Data Primer
Data primer yaitu data yang di peroleh langsung paa saat penilitian dengan menggunakan teknik eksperimen
2                    Data Sekunder
Data sekunder  adalah data yang di dapat  atau di peroleh dari literatur dan hasil penelitan
3.7. Rancangan Penelitian    
                     Penilitian ini akan di analisis denagn mennggunakan analisis varrians (f) dan rancangan acak legkap (RAL) dengan pola  3 perlakuan dan 3 kali ulangan atau 3 x 3 = 9  satuan percobaan.
3.7.1. Tabel Perlakuan Media Pertumbuhan Jamur Kuping
Perlakuan
Ulangan
Media
I
II
III

Jerami Padi (Media control)
Kayu Lapuk
Ampas Sagu
Tanah Gembur
Mo

Mk
Ma
Mt
Mo

Mk
Ma
Mt
Mo

Mk
Ma
Mt

Jumlah

   
2.8. Prosdur kerja     
1.        Tahapan pembuatan media
  Langka I
-          Ampas sagu yang diambil kemudian dimasukan kedalam plastik polibek, kemudian ditutup dengan plastic selama lima hari untuk menjalani proses pengomposan
-          Kayu lapuk (Kinar) yang telah mengalami proses pengomposan atau pembusukan diambil dan kemudian dimasukan kedalam plastik polibek, kemudian ditutup dengan plastik selama lima hari  menjalani proses pengomposan
-          Tanah gembur diambil dan kemudian dimasukan kedalam palstik polibek, selanjutnya media ditutup selama lima hari. menjalani proses pengomposan
Langkah II
-          Penyamaian atau pembibitan. Sebelum bibit disemaikan terlebih dahulu peneliti melakukan pasteurisasi atau penguapan media.  Dengan memakai wadah atau baskom untuk menjaga agar suhu tertap terjaga. Setelah itu bibit baru disemaikan kedalam tiap-tiap media yang telah disediakan.
Langkah II
-          Pengamatan dilakukan setiap hari setelah penyamaian bibit. Bila pada suhu media kurang dari 300C media harus segera dipasteurisasi dengan cara memasukan uap kedalam media tersebut dengan memakai wadah atau baskom. Dan bila kelembaban turun maka media dapat disiram dengan air atau dibasahi.
-          Untuk perhitungan kepadatan pertumbuhan pada tiap-tiap media dengan menghitung jumlah sampel populasi dimanakah jumlah terbanyak diantara tiap-tiap media, sedangkan untuk mengukurnya dengan rumus :
X = nx 102
Dimana :
X                    :  Sumber populasi terbanyak
n                     :  Jumlah Pertumbuhan rata-rata 
perhitungan kepadatan awal dihitung disaat jumlah populasi pertumbuhan berada pada tingkat titik maksimal selama satu minggu pada saat penelitian.

3.9. Teknik Analisa Data  
Data yang diambil dari hasil penelitian akan dianalisa dengan menggunakan analisa varians (F) dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.
Menerima hipotesis H0 apabila Fhit < Ftabel sebaliknya menolak H1 apabila Fhit < Ftabel  dan dilanjutkan dengan uji BNT           
                                                      


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Sepa merupakan salah satu Desa yang terdapat di Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah. Yang memiliki luas + 2.500. ha. Terletak diarah ketinggian + 900 m dpl. Secara geografis administratif batas wilayah Desa Sepa adalah sebagai berikut :
Ø  Sebelah Barat  berbatasan dengan Kecamatan TNS
Ø  Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Werinama
Ø  Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tamilouw
Ø  Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Salemang (sumber data : Pemerintah Negeri Sepa 2009)
Secara umum di Desa Sepa terdiri dari dataram rendah (0-3 m dpl) dan dataran tinggi (900 m dpl). Dataran rendah dimanfaatkan sebagai lokasi pemukiman dan pembungunan berbagai sarana pemukiman masyarakat. Dataran tinggi memiliki relief berbukit gelombang, dan digunakan sebagai lahan pertanian.
2. Hasil
Faktor kelembaban tinggi adalah syarat utama yang harus terpenuhi dalam budidaya jamur kuping. Kadar air substrat untuk pertumbuhan vegetatif tergantung dari jenis substrat yang dipakai. Untuk substrat kayu utuh, kadar air optimum adalah 45-60% sedangkan dengan substrat serbuk ampas sagu (ela sagu) adalah 60-75%, dan tanah gembur 60-75%. Meskipun demikian faktor lain seperti suhu, oksigen cahaya dan gaya tarik bumi juga merupakan faktor-faktor penting.
Pertumbuhan vegetatif optimum adalah pada suhu 26-300C­. Sedangkan pada saat pertumbuhan tubuh buah memerlukan suhu optimum yang bervariasi tergantung strainnya. Untuk strain dingin dapat menghasilkan tubuh buah  dengan baik pada suhu 12-18 C dan strain tropis pada suhu 26-300C.
Faktor fisik lain adalah cahaya. Kebanyakan jamur membutuhkan cahaya pada fase pertumbuhan generatif atau akhir fase vegetatif. Cahaya terutama berperan dalam proses perangsangan terbentuknya tubuh buah. Cahaya yang berperan dalam pembentukan primordia ini adalah cahaya biru sampai mendekati ultraviolet. Cahaya pada rentang lamda (λ) ini terdapat pada cahaya matahari.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan pola pertumbuhan jamur kuping dengan menggunakan media jerami padi, ampas sagu (ela sagu), tanah gembur, kayu lapuk (kayu kinar), dengan barameter suhu berkisar antara 26-300C, kelembaban udara berkisar antara 53-54%, dan pH berkisar antara 4,5-6,7.
Tabel 4.2.1. Pengukuran barameter media Jamur Kuping
Barameter
Pengukuran
Suhu
Kelembaban
pH
26-300C
53-54 %
4,5-6,7



Dari tabel diatas menunjukan rata-rata jamur kuping tumbuh pada suhu berkisar 26-300C sebagaimana tabel diatas. Sedangkan untuk hasil pengamatan pada pertumbuhan individu jamur kuping pada tiap-tiap media dapat dilihat pada tabel 4.2.1.
Tabel 4.2.2. Hasil Pengamatan jumlah Individu pada
Tiap-tiap Media Jamur Kuping (Auriculari sp)
Perlakuan
Ulangan
I
II
III
Mo
Ma
Mk
Mt
3
5
2
5
4
6
2
4
3
8
4
4
Jumlah
15
16
19

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pola pertumbuhan jamur kuping memiliki perbedaan yang nyata. Sedangkan untuk hasil pengamatan individu jamur dapat dilihat pada analisis tabel hasil pengamatan sebagai berikut :
Tabel 4.2.3 Analisi hasil Pengamatan Jumlah Individu Media Tumbuh Jamur Kuping (Auricularia sp)
Perlakuan
Ulangan
X
X
I
II
III
Mo
Ma
Mt
Mk
3
5
2
.5
4
6
2
4
3
8
4
4
10
19
8
13
3,3
6,3
2,7
4,3
Jumlah
15
19
50
50
16,6
X
3,75
4
4,75
 X  Total
4,16

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pola pertumbuhan pada masing-masing media memiliki perbedaan yang sangat nyata, untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 1.
Sedangkan untuk hasil pengamatan dan analisis keragaman nilai kepadatan dapat tabel 4.2.3.


Tabel 4.2.3. Rata-Rata Jumlah Presentasi Tumbuh
Perlakuan
Presentasi Tumbuh
Mo
Ma
Mk
Mt
10 / 50 x 100
19 / 50 x 100
8 / 50 x 100
13 / 50 x 100
20 %
38 %
16 %
26 %
Jumlah
50 / 50 x 100
100 %

Berdasarkan tabel 4.2.3 kepadatan jamur kuping memperlihatkan kepadatan yang banyak yaitu pada perlakuan Mo (3,3%), Ma (6,3%), Mk (4,3%), dan Mt (2,7%).
  1. Media dengan menggunakan Jerami pada
Jerami pada yang digunakan dalam penelitian ini sebagai media kontrol menunjukan pertumbuhan jamur kuping sangat baik, hal ini terlihat dari semua media yang digunakan media jerami padi menunjukan prsoses pertumbuhan jamur sangat cepat dari pada media yang lainnya.  
  1. Media dengan menggunakan ampas sagu (ela sagu)
Dari hasil pengamatan dilapangan media dengan menggunakan ampas sagu (ela sagu), pada hari pertama pembibitan tidak menunjukan tanda-tanda pertumbuhan sampai hari kedua, ketika masuk hari ketiga jamur kuping dengan menggunakan ampas sagu (ela sagu) mulai tumbuh. Dengan presentase pertumbuhan pada masing-masing polibeg dengan 3 kali perulangan hasilnya sama dengan rata-rata setiap polibeg jamur yang tumbuh 10-13 individu jamur, yaitu pada hari ketiga penanaman jamur kuping mulai tumbuh. Barameter syarat tumbuh dapat dilihat pada tabel 4.2.1.
  1. Media dengan menggunakan tanah gembur
Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan media dengan menggunakan media tanah gembur proses pertumbuhannya sangat lambat, sehingga jamur kuping mulai tumbuh pada hari ke 5 persemaian dengan rata-rata pertumbuhan pada setiap polibeg 5-10 individu jamur kuping. Dengan barameter suhu berkisar antara 26-300C, kelembaban udara berkisar antara 53-54%, dan pH berkisar antara 4,5-6,7, sebagaimana tabel 4.2.1.2.
  1. Media dengan menggunakan kayu lapuk (kayu kinar)
Berdasarkan hasil pengamatan pada saat penelitian media dengan menggunakan kayu lapuk proses pertumbuhannya pada saat hari ke 3 persemaian, pola pertumbuhan pada tiap polibeg 9-14 individu, Dengan barameter suhu berkisar antara 26-300C, kelembaban udara berkisar antara 53-54%, dan pH berkisar antara 4,5-6,7, sebagaimana tabel 4.2.1.2.


4.2. Pembahasan
Hasil pengamatan jamur dalam media biakan murni dipengaruhi oleh jenis, media, dan komposisi yang didapatkan pada media tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh tampak bahwa perlakuan Ma mempunyai jumlah individu yang banyak jika dibandingkan dengan media yang lainnya. Karena dalam proses pengomposan lebih cepat dan daya penguapan lebih tahan panas sehingga jamur mampu tumbuh lebih baik. Pada media dengan Mt hasilnya kurang baik karena media tersebut daya penguapan kurang jika dibandingkan dengan media Ma, sehingga hasilnya kurang baik, sedangkan media dengan Mk hasilnya cukup baik ini dibuktikan pada pertumbuhan.
Laju pertumbuhan jamur kuping bukan dilihat pada beratnya, melainkan jumlah individu yang tumbuh pada masing-masing media tersebut. Pertumbuhan individu jamur kuping selama penelitian ini diperoleh perlakuan yang mempunyai puncak yang tinggi adalah media Ma, diikuti dengan Mk, dan Mt. hasil ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :




J
u
m
l
a
h


 
19
13
10
 8         
Ma          Mk         Mo      Mt
                          Grafik Pertumbuhan Jamur Kuping
           Keterangan :       Ma     :  Media Ampas Sagu (Ela Sagu)
                          Mk     :  Media Kayu Lapuk
                          Mo     :  Jerami padi
                          Mt      :  Media Tanah Gembur
 Jamur kuping pada umumnya sudah mulai tumbuh pada hari kedua, namun hasil penelitian ini rata-rata jamur kuping pada hari ke 3 pengamatan dan puncak pengamatan dicapai antara hari ke 4-5 penurunan kepadatan sebagai parameter pertumbuhan ditandai dengan perubahan kondisi yang dipengaruhi oleh temperatur, cahaya, pH, air dan unsur hara.
Budi daya jamur meliputi tahap proses pembuatan bibit dan proses produksi jamur. Budi daya jamur kuping dapat dilakukan dibatang-batang kayu dengan perlakuan tertentu agar tumbuh dengan baik. Perkembangan teknik budi daya jamur kuping dengan menggunakan serbuk kayu atau serbuk gergajian. Cara ini menguntungkan karena petani dapat menambahkan nutrisi kedalam media tanam sehingga pertumbuhan jamur menujadi optimal.
Setelah menuyeleksi jamur yang akan dibudidayakan, langkah budi daya dimulai dengan pembuatan bibit jamur pada media tanam. Tahap berikutnya adalah pemeliharaan jamur selama proses budi daya, panen jamur, penanganan paspapanen dan pemasaran. Agar hasilnya maksimal, setiap tahapan harus dilakukan dengan bnaik termasuk penyiapan media tanam . Untuk media tanam bisa digunakan batang atau serbuk kayu.
Dari hasil pengujian statistik (RAL) ada pengaruh media terhadap pertumbuhan jamur kuping. Jumlah pertumbuhan rata-rata individu jamur kuping dari 4 media dan 3 kali ulangan menghasilkan pengaruh dan H1 hasilnya berpengaruh sangat nyata dan dilanjutkan dengan uji BNT. Berdasarkan hasil uji T hasilnya berpengaruh sangat nyata.





BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dilapangan penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :  Ada pengaruh media terhadap pertumbuhan jamur kuping (Auricularia sp)
5.2. Saran
Jamur kuping mempunyai manfaat beraneka ragam seperti untuk bahan makanan olahan, sayuran, serta obat-obatan. Bagi masyarakat petani tradisional pembudidayaan jamur kuping dengan menggunakan media yang tersedia di sekitar mereka dapat dilakukan. Dari hasil penelitian media ampas sagu (ela sagu) sangat baik untuk digunakan kerana jamur mampu tumbuh dengan baik. 


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Enjseklopedi Nasional. http/www.wikipedia.com. 20 September 2009
Basan, Jerry. M. 1990. Respon Pertumbuhan Terhadapa Suhu. PT. ITB. Bandung
Dina, S.S. 1994. Media Tanaman dan Penggunaannya. Penebar Swadaya. Bandung
Gunawan, A. W. 2000. Usaha Pembibitan Jamur. Penebar Swadaya. Bandung
Soenanto, Hardi, 2000, Jamur Kuping Budidaya dan Peluang Usaha. CV. Aneka Ilmu, Anggota IKAPI, Semarang 
Kemas Ali Hanafiah, 2002. Rancangan Percobaan Aplikatif. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kinanti R. 1992. Jamurjamur Konsumsi yang dibudidayakan. Edibel. Sukabumi
Mucchroji dan Cahyana, Y. A. 2000. Budidaya Jamur Kupingt. Kani-Sius. Yogyakarta
Nurman, S dan Abdul Kahar. 1984. Bertani  Jamur dan Seni Memasaknya. Angkasa. Bandung
Parlindungan, A. K. 2000. Pengaruh Konsentrasi Urea dan TSP didalam Air Rendaman Baglog Alang-Alang Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih. Seminar Hasil Penelitian Dosen UNRI.Tahun 2000
Sariwaria, H. U. 2000. Sukses Beragrobisnis Jamur Kayu-Shiitake, Jamur Tiram Kelabu Pada beberapa Medium Alternatif. Jurnal Natur Indonesia III. Jakarta.
Suarsono. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Utama
Sutioso, 2002. Biologi Pemasaran Jamur. http : www. Gioogle.com. 12 September 2009
Soeryani, M. 1970, Alang-Alang, Imperata Cylindrica (L) Beauv Patter of Growth as Related to its Promlem of Control. Biotrop Bull No. 1


Lampiran 1
Analisis hasil pengamatan pada jumlah individu perlakuan (PO)
db                        :    Perlakuan (t) . Ulangan (r) – 1
                             =  4.3-1
                             =  11
db perlakuan        :    r – 1
                             =  4 – 1
                             =  3
db acak                :    db total – db perlakuan
                             =  11 – 3
                             = 8  
FK                       =             (Total umum2)
                                 Jumlah seluruh pengamatan

                             = 
                             = 
                       = 
                       =  208,33
Jk total                 :    ∑X2 – Fk
                             =  (2)2 +| (2)2 + ….. (4)2 – 208,33
                             =  240 – 208,33
                             =  31,67
Jk Perlakuan        =  Fk

                             =            
                             =  23
Jk acak                 =  Jk Total – Jk Perlakuan
                             =  32,67 – 23
                             =  8,67
Kt perlakuan        = 
                             = 
                             =  7,7
Kt Acak               =             
                             =            
                             =  1,08
F hit                       =                
                             =              
                             =  7,12
F tabel                     =       
                             =             0,01        = 5,57
                                                0,05        = 3,36
Fhit > Ftabel = 0,01 & 0,05
7,12 > (5,57 & 3,36)
Tabel Analisis Keragaman
Sumber
db
jk
kt
Fhit
Ftebl
0,01
0,05
Perlakuan
Acak
Total
4
8
11
208,33
8,67
31,67
7,7
1,08
-
7,12
-
-
5,67
-
-
3,36
-
-

Ketrangan : ** …. berbeda nyata

KK                       :   
                       =
                             =  23 %
Karen Fhit > Ftabel pada tariff uji 5 % dan 1% dengan jumlah KK 23% maka dilanjutkan dengan uji BNT.

BNT  = (α)   =  Ttab  =
BNT  = 0,05 =  3,182 x
                     =  3,182 x
                     =  3,182 x 0,585

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Dai & Tata
Diberdayakan oleh Blogger.

My Frent

My Frent
Opan

Entri Populer

Selamat Datang di Blog Wasolo

Perjuangan ini belum berakhir kawan....
selama kita masih bernapas, jangan pernah menyerah dengan kekurangan yang kita miliki, karena Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi kita.
Olehnya itu, tetap berjuang untuk menjadi yang terbaik bagi orang lain.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DI BLOG WASOLO

Sahrul Khan

Sahrul Khan
kaka laki2

Ade

Ade
Ardy

My Frent

My Frent
If & (Alm) Dai

Man

Man
Hehehe ganteng ga...?

My Frent Is Umarella

Man & Bahtar

My Hany

Wisudaku

Pengikut

Entri Populer

Cari Blog Ini

Laman

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

18,123